Sinar matahari masuk melewati celah-celah jendela kamar Zoey. Zoey merasa tubuhnya terasa dingin.
“Tok, tok, tok.” Sepertinya ada seseorang yang ingin menemui Zoey.
“Masuk,” ujar Zoey menyuruh orang yang berada di depan kamarnya untuk masuk ke dalam.
Terlihat seorang laki-laki masuk sambil membawa headphone milik Zoey. Zoey berjalan menghampirinya. Ternyata dia adalah Baskara. Baskara membawa headphone adiknya tersebut. Baskara sontak kaget melihat adiknya yang masih mengenakan piyama.
“Lho, Dek, kamu nggak sekolah? Sudah jam enam ini loh!” kata Baskara sambil menatap adiknya dengan bingung.
Zoey hanya terdiam. Tiba-tiba tubuhnya limbung dan ia terjatuh.
“Zoey! Waduh, mana Mama nggak ada di rumah. Bi Desy, tolong buatkan teh panas, Bi! Cepat!” Baskara memanggil Bi Desy, pembantu di rumah mereka, sambil mengangkat adiknya ke atas kasur.
Lima menit kemudian, Bi Desy membawakan teh panas dan sandwich untuk Zoey. Baskara beranjak dan berpamitan kepada Bi Desy. Jika ia tidak segera berangkat ke kampus, bisa-bisa ia dihukum oleh dosennya.
Zoey terbangun lima belas menit kemudian. Ia langsung mengambil ponselnya dan mengetik pesan izin.
“Assalamualaikum, Bu Fine. Saya Zoey izin tidak mengikuti pelajaran hari ini karena sakit.”
Pesan tersebut terkirim ke kontak Bu Fine.
Zoey merasakan pusing dan sepertinya ia juga demam. Zoey meletakkan ponselnya kembali, lalu meraih sandwich yang ada di atas meja belajarnya. Ia memakan sandwich itu dan meminum teh panas.
Zoey menuruni anak tangga menuju dapur. Ia membawa piring bekas sandwich dan gelas yang tadi berisi teh panas, lalu meletakkannya di tempat cucian.
“Lho, Non sudah bangun? Tadi Non pingsan, terus ditolong Mas Baskara,” jelas Bi Desy mengenai kejadian tadi.
“Oh iya, Bi. Makasih ya, Bi Desy,” balas Zoey.
“Iya, sama-sama, Non.” Bi Desy pun beranjak pergi menuju halaman belakang.
Zoey kembali ke kamarnya. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 08.00 pagi. Zoey mengambil handuk dan melanjutkan untuk mandi. Ia memakai sweater ungu kesukaannya karena merasa kedinginan sejak semalam.
Setelah mandi, ponselnya berbunyi. Ada dua notifikasi dari dua nomor yang ia kenal. Devan dan Varel? Mereka mengirim pesan kepada Zoey.
“Zoey, lu kenapa nggak masuk?” Pesan dari Devan dikirim lima menit yang lalu.
“Zoey, kamu kenapa kok tumben hari ini nggak masuk? Kamu sakit, ya? Sakit apa? Tadi infonya di grup kelas kamu lagi sakit. Nanti aku jenguk ke rumah kamu ya, pulang sekolah.” Pesan dari Varel dikirim setengah jam yang lalu.
“Gue lagi sakit, Van. Gara-gara kemarin kehujanan,” balas Zoey kepada Devan.
“Oh iya, gws ya, Zoey,” balas Devan cepat.
“Iya,” jawab Zoey singkat.
Kali ini Zoey merasa aneh.
Kenapa Varel mengirim pesan seperti itu? Kalau dipikir-pikir, rasanya janggal juga. Masa cowok se-most wanted Varel tiba-tiba menghubunginya seperti itu? Sepertinya Varel memang memiliki rasa perhatian kepada Zoey.
“Eh iya, gue lagi sakit. Tapi santai aja, gue cuma demam sama pegal aja kok. Jadi lu nggak usah ke sini, Rel,” akhirnya Zoey membalas pesan Varel.
“Okay, semoga cepat sembuh ya, Zoeyyyyy. Kalau sudah sembuh, ayo makan es krim,” balas Varel cepat.
“Iya, kalau gue nggak sibuk!” balas Zoey singkat, ingin segera mengakhiri percakapannya dengan Varel.
Zoey meletakkan ponselnya, lalu mengambil laptop dari dalam ransel sekolahnya. Ia menyalakan laptop dan membuka aplikasi Netflix untuk menonton drama kesukaannya.
Sore hari, sekitar pukul 16.30, Zoey sedang tertidur lelap karena efek obat penurun demam. Suasana rumah cukup sepi. Hanya terdengar suara angin sore yang berhembus pelan.
“Tok, tok, tok.”
Bi Desy yang sedang menyiram tanaman di halaman depan segera membuka pintu.
“Permisi, Bi. Saya Varel, temannya Zoey,” ucap seorang laki-laki sambil tersenyum sopan. Di tangannya terlihat sebuah kotak kecil berwarna putih dan satu kantong minuman.
“Oh, Mas Varel. Non Zoey lagi istirahat, Mas,” jawab Bi Desy ramah.
“Nggak apa-apa, Bi. Saya cuma mau kasih ini,” katanya sambil menyerahkan kotak tersebut.
“Ini vanilla cake kesukaan Zoey… sama susu cokelat. Katanya dia lagi demam.”
Bi Desy tersenyum tipis melihat perhatian Varel.
“Masuk saja dulu, Mas. Nanti saya panggilkan.”
Varel mengangguk dan duduk di ruang tamu. Ia terlihat sedikit gugup, tapi tetap mencoba tenang.
Beberapa menit kemudian, Zoey turun dengan sweater ungu dan rambut yang masih sedikit berantakan. Wajahnya terlihat pucat, namun tetap cantik seperti biasanya.
“Rel? Lu ke sini?” tanya Zoey kaget.
Varel berdiri. “Katanya nggak usah ke sini, ya? Tapi gue tetap ke sini.”
Zoey memutar mata pelan. “Kan gue udah bilang nggak usah…”
“Iya, tapi gue tetap khawatir,” potong Varel cepat.
“Masa orang lagi sakit ditinggal gitu aja?”
Zoey terdiam sejenak.
Varel kemudian menyerahkan kotak putih itu.
“Ini buat lu. Vanilla cake favorit lu. Sama susu cokelat. Biar cepet sembuh.”
Zoey menatap kotak itu, lalu menatap Varel. Hatinya terasa hangat, walau tubuhnya masih dingin karena demam.
“Lu inget?” tanyanya pelan.
“Gue nggak pelupa,” jawab Varel santai.
“Apalagi soal hal yang penting.”
Deg.
Zoey merasa pipinya sedikit memanas. Entah karena demam… atau karena ucapan Varel barusan.
“Yaudah… makasih,” ucap Zoey pelan.
Varel tersenyum tipis. “Cepet sembuh, ya. Biar bisa makan es krim bareng gue.”
Zoey terkekeh kecil. “Lu obses banget sama es krim.”
“Bukan es krimnya,” jawab Varel pelan, menatap Zoey.
“Temennya.”
Zoey langsung salah tingkah.
“Udah, sana pulang!” katanya sambil menahan senyum.
Varel tertawa kecil. “Oke, oke. Gue pulang. Istirahat yang bener.”
Sebelum pergi, Varel sempat menoleh sekali lagi ke arah Zoey yang masih berdiri di dekat tangga.
“Zoey.”
“Hm?”
“Jangan sakit lama-lama.”
Zoey hanya mengangguk pelan.
Setelah pintu tertutup, Zoey memegang kotak vanilla cake itu erat-erat.
Perasaannya mendadak campur aduk.
Kenapa Varel bisa se-perhatian ini?
Dan kenapa… jantungnya jadi berdebar seperti ini?