Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Bab 6 : Es krim


Setelah meminum obat dan istirahat seharian badan Zoey sudah kembali terasa sehat. Ia sudah tidak pusing dan demam lagi. Zoey memakan vanila cake dan meminum susu cokelat yang Varell belikan sambil menonton TV di ruang keluarga.

 

Matahari pun sudah tenggelam, sekarang berganti dengan bulan yang menyinari gelapnya malam. Saat menonton TV Zoey tertidur hingga pukul setengah tujuh malam. Dan pada saat itu Baskara pulang dari kampusnya.

 

Terlihat Baskara berjalan lalu  duduk memainkan ponsel di sebelah Zoey. Baskara yang melihat adiknya terbangun langsung saja menanyainya.

 

"Lu kenapa kok tibat-tiba sakit tadi?" Baskara bertanya kepada adiknya dengan tatapan bingung.

 

"Sebenernya kemarin gue kehujanan pas pulang sekolah." Zoey menjelaskan kepada Baskara.

 

"Kenapa ga WA gue?" Baskara bertanya kepada adiknya sambil menatap sinis.

 

"Hmm, kata Mama lo ga bisa jemput gue kemarin." Zoey berkata kepada kakaknya dan tak kalah sinis tatapannya.

 

Baskara pun sendiri lupa kalo kemarin dia ada meeting bersama dosennya. Akhirnya Baskara menjelaskan kepada adiknya. Baskara ingin mengajak adikknya untuk menonton di bioskop kota malam ini. 

 

"Zoey badanmu sudah enakan?Mau ngga nonton Film? Gabut gue." Baskara bertanya kepada adiknya itu. 

 

"Yaudah ini kan juga bisa. nonton Film." Zoey menjawab kesal kepada kakaknya.

 

"Nonton di bioskop dek , bukan di rumah!" Baskara kembali menjelaskan kepada adiknya itu.

 

"Ohh, gass bang klo gituh." Zoey langsung berlari menuju ke kamarnya. 

 

Sepuluh menit kemudian Zoey turun menggunakan celana jeans biru dan crop top putih dengan jacket bewarna biru muda dan tas selempang warna putih. Tak lupa Zoey memakai gelang dengan ukiran namanya, Zoey. Gelang yang pernah Baskara berikan kepada adiknya itu. Memang Zoey si bocah keras kepala ini sangat menyukai memakai gelang.

 

Baskara yang masih memakai celana pendek dan kaos tipis pun terheran-heran melihat adiknya sudah siap. Baskara pun beranjak dari tempat duduknya dan segera berganti baju. 

 

Zoey dan Baskara menaiki

motor ninja milik Baskara. Baskara melajukan motornya melewati jalanan kota Surabaya. Baskara pun memarkirkan motornya dan mengajak adeknya itu masuk kedalam mall. Mereka berdua masuk ke Mall Tunjungan Plaza. Zoey yang dari tadi hanya memegangi baju kakaknya itu memasang wajah yang cemberut. Baskara yang melihatnya langsung menggandeng tangan adiknya itu. Terlihat wajah sumringah di muka adiknya. Yang tadinya cemberut kali ini terlihat sangat bahagia seperti anak kecil yang baru dibelikan es krim. 

 

Di sisi lain terlihat Varell yang juga sedang berada di Mall yang sama dengan Zoey. Varell melihat Zoey berjalan bersama seorang laki-laki yang ia tidak tahu kalau itu adalah, Baskara, Kakak Zoey.  Entah kenapa hatinya terasa sakit.

 

"Woi Varell, ayo cepet ntar di tinggal Kenzo, Sagara, sama Rasya kalo lu tetep diem di situ!" Suara Devan menyadarkan Varell yang tengah terdiam. 

 

Ternyata selain Varell ada beberapa teman lain yang berada di Mall bersamanya, termasuk Devan. Namun hanya Varell yang melihat keberadaan Zoey.

 

Varell bersama anggota Hyper Fostbar memang sedang berjalan-jalan dan bermain di Mall Tunjungan Plaza ini. Varell berjalan dengan melamun teringat kejadian melihat Zoey. Ia merasa entah kenapa ia harus dusuguhi pemandangan tak mengenakan. Ia bertanya-tanya siapa lelaki yang sedang bersama Zoey tadi, lelaki yang di pandanganya seperti lelaki yang usianya sudah masuk usia kuliah, tidak seperti dia yang masih SMA.

 

Zoey bersama Baskara masuk ke dalam ruangan bioskop dan mencari tempat duduk mereka. Kakak dan adik ini duduk di tengah tengah. Selama menonton Zoey menghabiskan popcornnya sendiri. Baskara yang melihat kelakuan adiknya hanya bisa tertawa dan geleng- geleng kepala.

 

 Film sudah selesai diputar. Sekarang waktu menunjukan pukul 22.30. Baskara dan Zoey memutuskan untuk langsung pulang karena sudah larut malam dan besok mereka harus sekolah dan kuliah.

 

Sementara itu Varell dan teman-temannya masih berada di tempat makan lantai bawah dan akan pulang juga. Varell kembali melihat Zoey keluar dengan Baskara. Ia melihat Zoey menggenggam tangan Baskara begitupun juga Baskara menggenggam tangan Zoey. 

 

Varell terdiam melihat Zoey dan Baskara bercanda dan tertawa sambil berjalan. Sesekali Baskara mengacak-acak rambut Zoey. 

 

Seampainya di rumah, Zoey berjalan menuju kamarnya untuk tidur. Zoey mengganti pakaiannya dengan piyama dan beranjak untuk tidur. 

 

"Tring" 

 

Ponsel Zoey berbunyi dan terlihat bahwa ada seseorang mengiriminya pesan. Tapi Zoey tak melihat jelas siapa pengirimnya karena Zoey sudah terlalu mengantuk, ia kemudian mematikan ponselnya dan langsung tidur. 

 

 

Waktu menunjukkan pukul 05.00, sinar matahari mulai masuk ke celah kamar Zoey. Zoey yang tadinya tidur pulas kini sudah bangun. Ia kemudian beranjak ke kamar mandi dan lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

Zoey sudah mengenakan seragam SMA nya. Ia kemudian menyalakan ponselnya dan mengecek pesan yang tadi malam belum sempat ia buka. Ternyata pesan tersebut dari Varell dan  ternyata pagi ini ia juga mengirim pesan lagi.

 

"Zoey kamu tadi malam ke Mall Tunjungan Plaza ya? Kamu sama siapa tuh?" Pesan itu terkirim kemarin pukul 22.55.

 

"Zoey kamu udah enakan kan? Kamu hari ini masuk sekolah ga?" Pesan terkirim lima menit yang lalu. 

 

"Iya, aku hari ini masuk kok Rell." Zoey membalasnya dan segera memasukkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya.

 

Zoey berjalan dan melompat-lompat kecil untuk menuju ke dapur. Di dapur sudah terlihat Baskara yang tengah sarapan bersama Mama. Zoey berlari dan duduk tepat di sebelah Baskara. Zoey menampilkan senyuman khasnya yang bisa membuat orang lain tersenyum kembali menatapnya.

 

"Zoey kemarin gimana sayang, udah enakan atau masih sakit? Maaf Mama kemarin pulang malam. Mama nyampe rumah tapi kalian lagi keluar kata Bi Desy. Saat kalian datang Mama juga sudah tertidur." Ucap Mama Zoey khawatir.

 

"Zoey sudah enakan kok ma, ini Zoey mau sekolah."

 

Zoey kemudian mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat kesukaannya. Zoey memakan 3 roti sekaligus dan meminum segelas susu cokelat kesukaanya. Setelah selesai sarapan, Zoey dan Baskara berpamitan, mereka hari ini berangkat bersama.

 

Baskara mengantar adiknya itu ke sekolah dulu. Baskara dulu juga bersekolah di Deralta High School. Setibanya di depan Deralta High School, Zoey berpamitan kepada kakak laki-lakinya itu. 

 

"Belajar yang rajin dek jangan banyak bolos!" Baskara berbicara kepada Zoey sambil mencubit hidungnya.

 

"Emangnya aku Si Baskara? bocah yang terkenal nakal di Deralta High School ha?" Zoey kembali mengejek kakaknya. Entah kenapa ketika dia marah wajahnya lucu sekali. 

 

Zoey pun masuk setelah melakukan tos andalannya dengan Baskara. 

 

Baskara melihat Pak Dani, satpam Deralta High School. 

 

"Lho Mas Baskara lagi ngapain di sini? Gimana kabarnya, sekarang kuliah dimana? Pak Dani bertanya dan menyapa Baskara dengan hangat.

 

"Kabar saya baik Pak, saya sekarang kuliah di ITS. Ini saya habis anter adek saya Pak, kebetulan sekolah di sini juga," jawab Baskara.

 

"Oh, Zoey adek kamu ya?"

 

"Iya Pak."

 

Setelah itu Baskara pamit pergi karena harus segera berangkat kuliah. Perbincangan dengan Pak Deni dan melihat susana di sekolah tadi  mengingatkan Baskara akan masa-masa di SMA. 

 

Zoey berjalan menuju kelasnya dengan wajah yang ceria. Ia masuk dan "bruk..." Zoey menabrak Varell karena tidak melihat kalau ternyata Varell sedang berdiri di pintu kelas. 

 

Zoey tak sengaja menabrak Varell. Varell memasang wajah pura-pura cemberut. Kemudian Varell berkata kepada Zoey.

 

"Nanti pulang sekolah ayok beli es krim!" Varell berbicara sambil tersenyum kepada Zoey.

 

"Yeayy ayooooo!" Zoey tak sengaja menjawab sangat keras, sampai teman-teman sekelasnya heran dengan apa yang terjadi pada Zoey dan Varell. Mereka pun akhirnya duduk ke kursi mereka masing-masing. 

 

"Hemmm lo tadi ngapain sama Varell?" Ghea bertanya kepada Zoey.

 

"Biasa duo lucu." Naya menimpali Ghea. 

 

"Yayaya, emang sieh cocok Zoey sama si Varell." Ghea melanjutkan berbicara sambil ketawa ketiwi. 

 

"Apasih ngga jelas kalian ini!" Zoey memasang wajah badmood.

 

"Lagian ya gue ga suka sama si Varell!" Zoey melanjutkan omongannya.

 

"Iya deh kan lu sukanya sama si De..." Naya menghentikan omongannya ketika Zoey menatapnya tajam.

 

Naya langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Zoey masih menatap Naya dengan tatapan tajam. Tatapan tajam Zoey membuat satu kelompoknya terdiam. Freya yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol pundak Zoey.

 

"Santai aja kali, ntar semua juga tau kok." Freya menggoda Zoey sambil tertawa. 

 

Zoey yang malas dengan percakapan aneh di pagi hari hanya bisa mendengus sebal. Kelakuan teman-temannya sedikit menjengkelkan, tapi sebenarnya lebih menjengkelkan Zoey sendiri daripada teman sekelompoknya itu. Pernah Zoey melakukan hal yang benar-benar menjengkelkan sampai-sampai semua temannya merajuk kepadanya. 

 

 

Devan yang tengah sibuk bermain Game dari tadi langsung meletakkan ponselnya ke dalam kolong meja ketika Bu Eva, guru Matematika sekaligus Wali Kelas itu datang. Bu Eva kali ini datang membawa penggaris kayu besar dan membawa buku paket. Sepertinya materi kali ini sangat menyusahkan. 

 

Zoey yang memang senang pelajaran Matematika selalu saja maju ke depan untuk mengerjakan tugas yang diberikan Bu Eva. Kali Zoey maju untuk mengerjakan soal nomer satu.

 

Devan mengambil buku tulis dan buku paket Matematikanya untuk mengerjakan tugas. Entah mengapa Devan sangat suka ketika Zoey maju ke depan mengerjakan tugas dan kemudian menjelaskan di depan kelas daripada mendengar penjelasan dari Bu Eva. 

 

Devan mencoba mengerjakannya, dengan segala rumus yang baru saja dijelaskan. Setelah mengerjakan ia maju kedepan untuk menulis jawabannya. Devan mengerjakan soal nomer dua. Ia maju ke depan saat Zoey juga masih menulis jawaban di papan tulis.

 

Varell yang tadi juga sibuk mengerjakan di mejanya, saat ini juga ikut maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal nomer tiga. Sekarang di depan ada tiga orang yang mengerjakan, Zoey, Devan dan Varell.

 

Setelah mengerjakan di papan, Devan, Zoey , dan Varell masih berdiri di sebelah papan. Kali ini Bu Eva yang mengoreksi jawaban mereka bertiga.

 

Semua menatap aneh kearah Zoey. Ia mencoba menatap ke arah Ghea untuk mencari tau kenapa semua mentapnya. Ghea melirik ke sebelah Zoey, Zoey pun akhirnya melihat ke arah sebelahnya. Ternyata Varell di situ tengah menatapnya dengan serius. 

 

"Why Varell? Apa ada yang aneh?" Zoey berbisik bertanya kepada Varell.

 

"Hmm gapapa, kamu cantik." Varell mengucapkannya pelan. Tetapi suara Varell terdengar oleh Zoey. Mendengar itu, pipi Zoey berubah menjadi berwarna merah.

 

Semua yang ada di kelas sontak meneriaki "cieee cieee" saat melihat Varell ngobrol dengan Zoey. 

 

"Varell lu ngomong apa ke Zoey?" Rafa meneriaki dari belakang.

 

"Gua cuma bilang kalo dia cantik." Varell secara terang-terangan mengucapkannya secara jelas. 

 

Sontak satu kelas serempak menjawab, "Iya dehh cantik..." Varell hanya tersenyum dan menampilkan lesung pipinya.

 

Zoey menundukan kepalanya karena malu, tak sanggup jika wajahnya dilihat teman-temannya. Wajah Zoey berubah menjadi merah padam kembali. Devan yang melihat kelakuan Varell hanya menatap Varell sinis saja. Bu Eva yang tengah menjelaskan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak didiknya.

 

"Hmm ngapain sih Varell muji-muji Zoey? Ngga salah sih emang Zoey cantik. Tapi gua ga suka." Devan berbicara dalam hati.

Hati Devan berkecamuk rasa sebal dan jengkel melihat Varell. 

 

Setelah selesai dikoreksi oleh Bu Eva, mereka bertiga pun kembali ke meja mereka masing-masing.

 

"Heh keknya Devan cemburu deh." Fely berbicara setengah berbisik kepada Zoey.

 

Zoey menoleh ke belakang, ia melihat wajah Devan yang membuatnya sedikit takut. Wajah yang menampakkan dirinya seperti sedang marah dan jengkel. 

 

"Hmm emangnya iya ya? Perasaanmu aja kali." Zoey bertanya kembali pada teman sekelompoknya.

 

"Pake nanya, ya jelas cemburu lah! Gimana sih lo Zoey." Ghea hanya bisa berkata itu kepada Zoey.

 

Semua serempak membicarakan kejadian yang tadi terjadi di depan kelas. 

 

"Dert dert dert." Ponsel Zoey bergetar. Terlihat notifikasi WA dari Mr. Gilang.

 

"Zoey ajak temanmu untuk ke ruang seni! Kita latihan sekarang!" Pesan dari Mr. Gilang. 

 

Zoey berdiri dan mengajak Freya. Freya terlebih dahulu izin ke Bu Eva. Sedangkan Zoey menghampiri Devan Si Kulkas Dua Pintu itu.

 

"Van.." Zoey memanggil Devan lirih.

 

"Hmm," Devan hanya membalas dengan dehamannya saja.

 

"Ayo ke ruang seni, disuruh

latihan sama Mr.Gilang." Zoey berbicara lagi.

 

"Hmm ayoo." Devan berdiri dan meninggalkan kelas

 

Varell yang melihat Zoey berbicara dengan Devan dan Zoey ditinggal pergi oleh Devan dengan cuek, rasanya ingin menampol Devan begitu saja. Zoey kemudian izin ke Bu Eva untuk meninggalkan kelas karena harus ikut latihan band.

 

Zoey dan Devan tiba di ruang seni, di sana sudah terlihat Rey dan Marvel. Zoey berjalan menuju Mr. Gilang dan menanyakan di mana Freya. 

 

"Freya di mana Mr. ?"

 

"Freya izin keluar sebentar tadi." Mr.Gilang menjawab dengan tersenyum.

 

Meskipun semua murid di Deralta High School menganggap Mr.Gilang itu adalah orang yang galak, Zoey sangat menentang itu. Memang dari raut wajahnya seperti orang yang galak, tapi aslinya tidak seperti itu.

 

Freya kembali dan kemudian mereka semua melanjutkan latihan. Freya, Rey, Marvel, Zoey, dan Devan berlatih bersama. Mereka berlatih hingga bell pulang sekolah berbunyi. Latihan mereka sudah selesai. Zoey ingin kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Zoey membuka pintu ruang seni, Zoey keluar bersama Devan.

 

Zoey melirik Devan dan berbicara dalam hati, "Apa benar Devan cemburu, atau hanya badmood saja. Lagian untuk apa Devan cemburu". 

 

Zoey dan Devan berjalan bersama melewati lorong Deralta High School. Saat berjalan Zoey tak sengaja tersandung karena kakinya menyenggol sebuah kaki kursi. Zoey terjatuh, tapi untungnya Devan sigap menolongnya. Devan memegang pinggang Zoey dan Zoey memegang pundak Devan. Varell yang tengah berjalan dan membawa tas Zoey pun berhenti. Langkahnya terhenti karena melihat Zoey dan Devan. Zoey yang masih mengunci tatapannya dengan Devan sontak melepaskan tangannya dari pundak Devan.

 

"Sory Van..." Zoey berucap lirih.

 

"Iya gapapa, udah sana sama Varell, itu anaknya sudah nungguin kamu! Aku mau pulang." Devan berjalan meninggalkan Zoey.

 

Varell menghampiri Zoey dan bertanya apakah Zoey baik-baik saja atau ada yang terluka. Zoey hanya menjawabnya, "Gapapa".

 

Varell menemui Zoey karena Varell berjanji sepulang sekolah mengajak Zoey makan es krim di seberang sekolah. 

 

Varell dan Zoey pun menyeberang. Mereka sempat berhenti di tengah tengah jalan karena ada truk lewat. Varell langsung menggandeng tangan Zoey tanpa meminta izin kepada Zoey terlebih dahulu. Varell terus menggandeng tangan Zoey hingga tiba di depan toko es krim. 

 

Zoey kaget dengan apa yang dilakukan Varell. Varell yang melihat ekspresi bingung Zoey pun berkata pada Zoey.

 

"Maaf Zoey, aku takut kamu tertabrak dan kenapa-napa. Jadi tadi aku langsung gandeng kamu aja."

 

"Oh, iya gapapa," ucap Zoey kikuk.

 

Mereka berdua pun nemesan es krim favorit mereka. Mereka lalu duduk dan segera memakan es krim karena takut keburu leleh. 

 

Saat makan es krim, Zoey hanya diam hingga akhirnya Varell membuka pembicaraan.

 

" Zoey kamu kemarin pergi ke Mall Tunujungan Plaza ya?"

 

"Iya, kok lu tau?" Zoey balik bertanya kepada Varell.

 

"Hmm soalnya aku kemarin juga kesana bareng Hyper Fostbar." Varell menjelaskan.

 

"Owalah iyaa." Zoey berucap singkat.

 

"Btw, kemarin lu kesana sama siapa? Pacar mmu?" Varell mencoba bertanya, karena ia penasaran siapa laki laki itu.

 

"Oh... bukan pacar, itu abang gue." Zoey menjawab pertanyaan Varell.

 

Varell yang mendengar jawaban Zoey merasa sangat lega. Dari kemarin malam Varell terus memikirkan Zoey. Setelah selesai makan es krim Zoey mengucapkan terimakasih.

 

"Makasih ya Varell traktiran es krim nya?"

 

"Sama-sama Zoey. Btw, kamu dijemputkah atau mau bareng aku?" Varell bertanya pada Zoey. 

 

"Engga deh, itu ada abangku." Zoey melihat jalanan dan tampak motor ninja merah milik Baskara.

 

Baskara pun melajukan motornya dan berhenti di depan Zoey. Zoey pun berpamitan kepada Varell. 

 

"Hmm itu siapa dek? Pacar lu?" Baskara bertanya kepada Zoey.

 

"Bukan, cuma temen!" Jawab Zoey.

 

"Sayang ya, padahal ganteng." Baskara mencoba menggoda adiknya.

 

"Ganteng? Iya sih ganteng, tapi aku ngga suka dia! Aku sukanya orang lain." Zoey semakin sebal dengan Baskara. 

 

"Iya iya dek, santai aja. Btw siapa yang lu suka?" Baskara mencoba bertanya.

 

"Udah lah bang ayo pulang! jangan bahas kek begituan!" Zoey berdecak sebal.

 

"Iya iya adekku sayang." Baskara pun melanjutkan perjalanan hingga pulang ke rumah.