Pov : Author
Zoey, Freya dan Devan kembali ke ruang seni. Sesampainya di ruang seni , Zoey mengambil posisi untuk kembali bernyanyi. Tiba-tiba terdengar suara ponsel bergetar, dan ternyata suara itu berasal dari ponsel milik Zoey. Semua orang yang ada di dalam menoleh ke arahnya, tak terkecuali pula Mr. Gilang.
"Permisi Mr. Gilang, saya mau mengangkat telfon," ucap Zoey meminta izin.
"Iya, silahkan," jawab Mr. Gilang.
Zoey kemudian berjalan keluar ruang seni untuk mengangkat telfon tersebut.
"Halo Ma, kenapa?" Tanya Zoey kepada Mamanya.
"Zoey nanti Mama ngga bisa jemput, Mama lagi ada keperluan. Kamu pulangnya naik bus kota saja ya," ucap Mama Zoey.
"Lho Ma, aku ga berani naik bus Ma," ucap Zoey dengan ketakutan.
"Bareng Freya gimana? Soalnya Mama ada urusan , trus Papa kamu hari ini keluar kota," ucap Mama Zoey.
"Yaudah Ma, nanti Zoey coba tanya Freya," jawab Zoey.
Telfon dimatikan secara sepihak oleh Zoey. Zoey kembali ke ruang seni dengan wajah murung.
Tepat pukul 16.00 latihan sudah selesai. Zoey berpamitan terlebih dahulu kepada Mr.Gilang untuk segera pulang. Zoey sudah bertanya kepada Freya apa bisa pulang bersama, tapi ternyata Freya tidak bisa pulang bersama. Freya selesai latihan band langsung ada les Bahasa Mandarin. Zoey berjalan menuju ke depan gerbang sekolah dengan gontai. Saat itu mulai turun hujan gerimis. Meski gerimis mulai membasahi tubuhnya, tetap saja Zoey tidak peduli. Setengah jam berlalu, Zoey menunggu hujan reda di dekat Pos Satpam gerbang sekolah sambil menunggu bus kota, namun hujan dari tadi tidak kunjung reda dan bus kota juga tak kunjung datang.
Devan berjalan melewati lorong Deralta High School. Ia baru saja keluar dari ruang seni karena keasikan bermain drum. Devan berjalan membawa payung menuju parkiran. Ia mengambil motor ninjanya dan melajukan motornya. Di pos sekolah , Devan melihat gadis sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Devan berhenti tepat di depan gadis tersebut. Ternyata dia adalah Zoey, teman sekelasnya yang juga mengikuti ekstra band.
"Lu ngapain disini? Kok ga pulang?" Tanyanya pada Zoey.
"Oh, ga ada yang jemput Dev. Jadinya ya terpaksa nunggu hujan reda," jawab Zoey.
"Mau bareng ga?" Tanya Devan.
"Emang rumah lu dimana?" Zoey bertanya sambil memasang wajah jutek.
"Adalah, lu mau bareng atau ngga?" Tanya Devan pada Zoey untuk yang terakhir kalinya.
"I-iya deh gua bareng lu," jawab Zoey.
Zoey pun naik ke motor ninja milik Devan. Devan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Zoey berpegangan di pundak Devan.
Bukannya malah mereda, hujan turun semakin deras ditambah dengan suara petir yang membuat Zoey ketakutan. Devan menepikan motor ninjanya dan memarkirkannya tepat di depan sebuah cafe.
Devan mengajak Zoey untuk masuk ke dalam cafe tersebut. Mereka mengambil tempat duduk di sudut cafe.
"Lu mau pesen apa?" Tanya Devan kepada Zoey.
"Terserah,” ucap Zoey.
Devan memanggil pelayan di cafe tersebut. Devan memesan dua cokelat panas dan dua vanill cake. Devan dan Zoey masih sama-sama diam. Sampai pada akhirnya Zoey membuka pembicaraan.
" Thanks ya Dev udah mau nebengin gua," ucap Zoey kepada Devan.
"Hmm..." Devan hanya berdehem saja.
"Oh iya, kemarin tugas Fisika kan perkelompok nih. Lu udah dapet kelompok belum?" Tanya Zoey sambil menatap wajah Devan.
"Oh, Gue belum dapet kelompok," jawab Devan.
"Lu mau ga sekelompok sama gua? Kan kelompoknya dua orang, cowok sama cewek. Gimana?" Zoey bertanya lagi kepada Devan.
"I-iya," ucap Devan gugup.
Entah mengapa ketika Devan berbicara dengan Zoey seperti deg-degan atau gugup. Devan masih bingung dengan apa yang ia rasakan.
Lima belas menit kemudian pesanan mereka pun datang. Pelayan tersbut meletakkan dua cokelat panas dan dua vanilla cake di atas meja mereka.
"Thanks mbak," ucap Devan kepada pelayan itu.
"Sama-sama Mas Devan," jawab pelayan tersebut.
Dalam hati Zoey merasa aneh, kok pelayan itu memanggil Devan dengan panggilan Mas Devan? Bagaimana dia bisa tau nama Devan. Namun Zoey hanya diam membatin saja, tidak bertanya langsung ke Devan bagaimana pelayan itu bisa tau namanya.
Zoey dan Devan sibuk dengan hidangan mereka masing-masing. Zoey memikirkan tugas fisikanya, kapan akan di mulai kerja kelompok.
"Dev..." Panggil Zoey kepada Devan.
"Hmm," jawab Devan yang masih meminum cokelat panasnya.
"Menurutmu kapan kerja kelompoknya?" Tanya Zoey.
"Terserah," jawab Devan singkat.
Zoey masih mencoba mencari kata-kata untuk berbicara dengan Devan. Semua yang terlintas di pikirannya sangatlah aneh. Zoey kembali bertanya kepada Devan.
"Btw lu suka baca buku ngga?" Tanya Zoey penasaran.
"Ga, gua ga suka baca buku atau novel-novel romance," ucap Devan tanpa alasan.
"Why? Padahal baca novel seru loh," ucap Zoey mencoba mencari tau apa alasan Devan tidak suka membaca novel.
"Ya karena gua ga suka baca novel, buat apa coba baca novel kaya gitu," jawab Devan.
Devan memang bukan tipikal cowok yang suka baca cerita fiksi begituan, apalagi romance. Menurut Devan kalo baca novel romance itu membosankan. Hidangan mereka telah habis, Devan membayar semuanya.
Zoey membatin, "ternyata Devan baik juga".
Hujan sudah reda, Devan dan Zoey melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Lima belas menit kemudian , Tepat pujul 17.30, Zoey sudah tiba di depan rumahnya.
"Thanks ya Dev udah anter gue pulang sampe rumah," ucap Zoey berterimakasih kepada Devan.
"Iya sama-sama Zoey," ucap Devan sambil tersenyum.
Entah kenapa Zoey merasakan keanehan pada perasaannya. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Zoey kemudian juga balas tersenyum kepada Devan.