POV : Zoey
Aku menyandarkan punggungku di kursi belajar lalu membuka game favoriteku, Mobile Legend. Kupakai headset selanjutnya login game Mobile Legend.
Tiba-tiba terdengar notifikasi dari WhatsAppku.
Tring.
Kubuka apliksai Whatsappku.
"Zoey aku Devan, ajarin aku main drum dong."
"Kok gua? Kan bisa ke Mr. Gilang atau ke Alex, ngapain aku?"
"Gpp, kata Rey kamu bisa main drum tuh."
"Freya yang bisa, bukan aku Devan."
"Oh..."
"iya."
"Y."
Ternyata itu Devan, kukira siapa. Aku melanjutkan untuk bermain rank. Aku bermain rank sendiri, lagian juga di kelas yang cewe ngga ada yang main ML, hanya anak laki-laki yang suka main ML.
"Zoey." Pesan dari Freya.
"Ha?"
"Besok gimana?"
"Ntar dulu deh Freya , aku lagi ngepush nih," balasku dengan emote tersenyum.
"Yaudah, kalo udah selesai bales pesan ku!!"
"Iya-iya , bawel."
"Iy."
Selama lima belas menit aku bermain, akhirnya pertandingannya selesai juga. Aku membuka aplikasi WhatsAppku. Dua pesan tertera di hanphoneku.
"Zoey ada tugas ga besok?" (Devan)
"Masih lama kah?" (Freya)
Aku membalas pesan Freya.
"Udah kaka."
"Lama amat sih!"
"Namanya juga ngepush kak.. gimana sih kaka ini?"
"Besok kita latihan lagi sama Mr.Gilang sepulang sekolah."
"Astaga Freya, malas kali aku ini."
"Ku bilangin Mr.Gilang tau rasa lo."
"Ih kok kaka sekarang suka lapor-lapor sih."
"Biarin."
Aku membiarkan pesan Freya. Kali ini aku membuka pesan dari Devan.
"Zoey ada tugas ga besok?"
"Ga ada."
"Oh, ok."
"Mau tanya nih, Alex itu udah dari lama kah?"
"Alex?"
"Iya anak drum itu."
"Oh, dia lumayan lama sih, barengan sama si Freya."
"Kalo kamu dari kapan Zoey?"
"Aku sih beberapa minggu yang lalu , jadi aku masih baru di ekstra Band ini."
"Oh."
"Ya."
Aku melepas headsetku dan membiarkan handphoneku tergeletak di atas meja belajarku. Aku turun ke bawah untuk mengambil makan malamku. Hari ini aku memang tidak makan bersama keluargaku. Aku memilih memesan Go food untuk makan malam. Aku memesan nasi goreng dan dimsum mentai , serta es jeruk. Setelah mengambil pesanan , aku kembali ke kamarku. Saat aku duduk kembali di atas kursi belajarku, ada notifikasi Whatsapp lagi tertera di layar handphone ku. (Panggilan telephone dari Devan dua menit yang lalu).
Aku langsung membuka aplikasi WhatsApp ku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Sory kepencet."
"Oh, ok."
"Y."
Aku membuka makanan yang kupesan. Semuanya sudah siap di atas meja, tinggal cerita favoriteku di Youtube. Aku makan sambil menonton cerita Nadia Omara. Sebenernya sih aku takut, tapi gapapa lah yang penting ada tontonan untuk nemenin aku makan malam.
Hari ini adalah hari Selasa. Aku terbangun pukul setengah lima pagi. Aku segera mengambil air wudhu, kemudian mengambil sajadah dan mukenaku untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai sholat aku menyiapkan buku pelajaran sekolah dan memasukan buku absen ekstra band ke dalam ranselku. Ponselku berbunyi lagi, ternyata itu pesan dari Devan.
"Zoey ntar ada latihan ga?"
Aku tidak membalas pesan dari Devan, aku hanya melihatnya dari notifikasi layar kunci. Setelah menata dan menyiapkan peralatan sekolah, aku berjalan menuju kamar mandi. Kemudian tak lama terdengar teriakan dari mamaku.
"Zoey cepetan, udah di tungguin Freya tuh!" teriak mamaku dari luar kamar.
"Bentar ma, Zoey masih mandi."
"Cepetan kalo mandi!"
"Iya mah."
Setelah mandi aku segera memakai seragam dan mengambil ranselku. Aku bergegas turun ke bawah. Aku melihat Freya yang tengah memainkan ponselnya di ruang tamu dan kemudian aku segera menghampirinya. Aku dan Freya bergegas berjalan keluar dari pintu ruang tamu.
"Hei Zoey, kok bisa sih ga sarapan? trus berangkat kok ga pamitan sama mama sama papa?" tegur mamaku.
"Eh i-iya mah, maaf, hehehe lupa ma."
Sebenernya aku tadi buru-buru keluar mau menghindari sarapan pagi. Entah kenapa aku malas kalau harus sarapan pagi. Dan mamaku pasti akan langsung mengomeliku kalau aku tidak sarapan.
"Sarapan dulu!"
"Ngga mau mah, belum lapar aku."
"Ngga, ayo Freya juga sarapan dulu!"
"Maaf te saya sudah makan di rumah tadi," jawab Freya.
"Ya sudah ini bekal mu Zoey, jangan lupa dimakan nanti bekalnya dan ini buat Freya juga."
"Iya mah."
"Makasih ya tante," ucap Freya.
"Iya sama-sama, hati-hati di jalan. Jangan ngebut!"
"Iya.. "
Aku berpamitan kepada orangtuaku dan berjalan menuju ke halaman depan rumah. Kami hari ini berangkat naik motor vespa milik Freya. Aku dan Freya berboncengan , Kali ini aku yang menyetir dan Freya yang aku bonceng di belakang. Perjalanan dari rumahku ke sekolah memakan waktu kurang lebih lima belas menit.
Lima belas menit berlalu, kami sekarang sudah tiba di parkiran Deralta High School. Setelah memarkirkan vespa milik Freya, aku dan Freya berjalan berdampingan menuju kelas. Sesampainya di kelas aku melihat Devan sedang melihatku. Aku hanya terdiam dan mengalihkan pandanganku dari Devan. Entah kenapa hari ini dan kemarin Devan berbeda dari biasanya. Aku duduk dan membuka ranselku. Aku mengambil novel yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah. Aku bersama Freya berjalan keluar kelas dan pergi ke perpustakaan sekolah.
"Hai Zoey". Siska menyapku.
"Eh Siska, kemaren lu kenapa ga ikut ekstra? Dicariin Mr.Gilang loh."
"Eh a-anu aku kemarin lupa kalo ada ekstra hehehe."
"Owalah oke-oke, yaudah kalo gitu aku sama Freya duluan."
"Iya aku juga."
Setelah aku mengembalikan novel yang aku pinjam, aku kembali menuju kelas. Aku dan Freya berlari karena dua menit lagi bel sekolah berbunyi. Sesampainya di kelas bel masuk pun baru berbunyi. Untung saja kami tepat waktu, kalo tidak kami bisa dihukum Pak Hendra. Pak Hendra adalah guru yang terkenal killer karena sikapnya yang dingin dan tegas. Pak Hendra juga orang nya tidak suka banyak bicara. Pak Hendra mengajar mata pelajaran Kimia, pelajaran Pak Hendra berlangsung dengan hening, tak ada suara siswa-siswi IPA-2 sama sekali. Hanya terdengar suara decitan spidol Pak Hendra saat menulis di papan tulis kelas. Pak Hendra sedang menulis materi hari ini kemudian menjelaskannya di depan kelas.
Setelah pelajaran Kimia selesai, kami pergi ke lab komputer. Pelajaran kali ini adalah pelajaran favorite siswa-siswi Deralta High School, pelajaran TIK, dimana guru yang mengajar terkenal sabar dan tidak bisa marah kepada anak didiknya, yaitu Pak Andi nama guru kami.
Pelajaran pak Andi telah selesai. Aku berjalan kembali ke kelas untuk meletakan alat tulisku. Setelah itu aku bersama Freya dan Fely pergi ke kantin untuk membeli makanan karena perut kami mulai terasa lapar. Sesampainya di kantin kami lalu menukarkan uang kami dengan menggunakan kupon. Ya sistem di kantin kami kalau ingin membeli sesuatu harus dengan kupon tidak langsung membeli dengan uang. Setelah kami menukar kupon , kami berpencar menuju ke stand makanan dan minuman untuk membeli makanan kesukaan kami masing-masing. Aku lebih dulu selesai membeli dan segera mencari tempat duduk untuk kami makan bersama. Kemudian Freya dan Fely menyusulku.
Freya , Fely , dan aku sudah duduk melingkar.
"Btw lu tadi ngerasa ga sih waktu di lab komputer ada bau ga enak gitu, kaya bau busuk gitu?" tanya Freya membuka pembicaraan.
Tawa Fely dan aku pecah, semua orang menatap kami dengan tatapan bingung.
Kami bertiga berbincang-bincang dan bercerita tentang segala hal, entah itu hal aneh, lucu, sedih ataupun random. Terkadang aku asbun tentang apapun yang terlintas di benakku, dan teman-temanku pasti akan tertawa ngakak mendengarkan celotehan asbunku.
Tak terasa bel sekolah berbunyi, tanda istirahat selesai, saatnya masuk ke kelas kembali. Aku berjalan menuju ke kelas, kemudian aku masuk dan duduk bersama teman sekelompokku.
"Kalian bertiga darimana saja sih? Hari ini waktunya piket perpustakaan loh!" ucap Naya.
"Oh iya, sorry sorry," balas Fely.
"Kamu itu Zoey, ketua perpustakaan bukannya piket malah jajan di kantin,” ucap Cilla mengomeliku.
"Hehehe, sorry ya... Lupa kalau hari ini adalah hari Selasa, waktunya kita piket di Perpustakaan," jawabku sambil terkekeh.
Aku menarik kursiku kemudian aku duduk. Kubuka ponsel dan melihat apakah ada pesan masuk. Terlihat ada notifikasi dari Mr.Gilang.
"Zoey, sekarang ajak teman-temanmu untuk latihan di ruang seni." Pesan ini terkirim sepuluh menit yang lalu.
"Siap Pak, saya akan segera ke sana." Aku membalas pesan dari Mr.Gilang dan segera beranjak dari tempat dudukku.
Aku mengajak Freya untuk pergi ke ruang seni untuk latihan. Sebelum izin kepada Bu Leni , aku mengajak Devan juga. Kami bertiga lalu pergi berjalan menyusuri lorong sekolah. Terlihat di dekat ruang seni ada dua cowok sedang berdiri. Mereka adalah Rey dan Marvel.
Marvel melambaikan tangannya ke arahku, aku membalas lambaian Marvel. Kami berlima masuk dan berkumpul di dalam ruang seni.
"Kalian sudah terpilih sebagai anggota inti band Deralta High School, maka jangan sia-siakan kesempatan kalian!" ucap Mr.Gilang.
Kami semua serentak menjawab "iya" dan mengangguk. Latihan kami berlangsung selama satu setengah jam. Mr.Gilang memberi kami waktu untuk istirahat. Aku dan Freya bergegas kembali ke kelas untuk mengambil tas , begitu pula dengan Devan.