Penulis: Zafira Almaira Rahma Alamsyah

Bab 1 : Pendaftaran ekstrakulikuler


POV : Devan

 

Hari ini aku akan mendaftar sebagai anggota band di sekolahku. Tepat pukul 06.00, aku sudah tiba di sekolah. Aku berjalan menuju kelasku dan meletakkan tasku di samping meja. Aku membuka loker untuk mengambil stik drumku.

 

Setelah berjalan sekitar dua menit, akhirnya aku tiba di depan sebuah ruangan yang dicat warna krem dengan pintu kayu bertuliskan “Band Deralta High School.” Aku mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan ini memiliki wangi khas tersendiri. Biasanya, setiap orang yang keluar dari ruangan band pasti membawa aroma khas itu.

 

Hari ini, aku resmi mendaftar sebagai anggota Band Deralta High School.

 

Tepat pukul 15.00, bel sekolah berbunyi. Aku merapikan buku dan alat tulisku, lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan kelas. Sesampainya di depan ruangan Band Deralta High School, aku mengeluarkan ponsel dan menunggu sebentar.

 

"Cklek"

 

Pintu terbuka. Keluar seorang siswi perempuan dengan rambut panjang dan jepit bintang berwarna merah yang selalu ia pakai. Kali ini, rambutnya tidak dikuncir. Dia adalah Zoey, teman sekelasku. Zoey memang biasanya selalu menguncir rambutnya, entah mengapa saat melihat rambutnya terurai seperti ini, ia tampak manis dan cantik.

 

“Lho, Devan, ngapain di luar? Kamu ikut ekstra band, ya? Masuk, gih.”

 

“Oh, iya.”

 

Setelah itu, Zoey berlari meninggalkanku. Aku masuk ke ruangan dan meletakkan tas, lalu memainkan ponselku sebentar.

 

“Woi, kenalin, gua Rey.”

 

“Iya, kenalin juga, gue Devan.”

 

Aku dan Rey pun berbincang-bincang. Tiba-tiba, datang seorang siswa laki-laki berkacamata yang membawa tas gitar. Sepertinya ia akan bermain gitar.

 

“Hei, Mas Rey, sorry agak telat.”

 

“Gak apa-apa, Marvel. Santai aja.”

 

“Oh iya, ini siapa?”

 

“Ini Devan, anak baru.”

 

“Owalah. Halo, Mas Devan, kenalin aku Marvel.”

 

“Iya, aku Devan. Salam kenal, ya.”

 

Kami bertiga pun melanjutkan obrolan dan saling berkenalan lebih jauh.

Zoey masuk dengan tergesa-gesa, lalu menarik Freya untuk keluar. Rey dan Marvel mengajakku ikut keluar juga, karena Mr. Gilang hari ini masuk agak terlambat. Jadi, anak-anak Band Deralta High School menyempatkan diri untuk pergi ke kantin. Ada juga yang keluar sekadar mencari udara segar.

 

Aku, Rey, dan Marvel berjalan menuju kantin sekolah kami.

 

Zoey terlihat sedang berada di salah satu stan, membeli es krim. Tadi pagi, baru saja dibuka stan baru yang khusus menjual es krim. Zoey, sang pecinta es krim, tentu saja tidak mau melewatkannya. Dengan penuh rasa penasaran, aku melihat wajah Zoey yang tampak sumringah saat memegang es krim cokelat dan vanila.

 

Zoey berjalan berdampingan dengan Freya.

 

“Hai, Devan…”

 

“Hai, Zoey.”

 

“Duluan ya, keburu leleh es krimnya.”

 

“Iya.”

 

Seusai dari kantin, aku kembali ke ruang Band Deralta High School. Mr. Gilang yang sejak tadi memperhatikanku langsung memanggilku.

 

“Devan, ke sini!”

 

“Oh… i-iya, Pak.”

 

Tatapan Mr. Gilang yang terus mengarah kepadaku membuatku merasa sedikit tidak nyaman.

 

“Duduk!”

 

“I-iya, Pak.”

 

Aku duduk dan mencoba mengalihkan pandanganku. Mr. Gilang kemudian menanyakan alasan aku ingin menjadi anggota Band Deralta High School.

 

“Kamu ikut Band Deralta High School karena apa? Dan mau main alat apa?”

 

“Aku mau main drum, Pak. Alasan saya mengikuti ekstra ini untuk melatih skill saya bermain drum.”

 

“Baik. Pemain drum di band kita cuma dua, Alex dan kamu, Devan.”

 

“Baik, Pak… terima kasih.”

 

Setelah diwawancarai Mr. Gilang, aku kembali duduk bersama Rey dan Marvel.

 

Sejak tadi, Zoey dan Freya terlihat sedang mendiskusikan sesuatu dengan Mr. Gilang. Tiba-tiba, Zoey berbicara, disusul Freya.

 

“Hai, semuanya. Karena sebentar lagi ada event hari jadi Deralta High School, Band Deralta High School akan menampilkan sebuah penampilan yang memukau.”

 

“Benar kata Zoey. Jadi yang akan tampil di event kali ini adalah Zoey sebagai vokalis utama, Rey bermain bass, Marvel bermain gitar listrik, aku bermain keyboard, dan Devan sebagai pemain drum. Event-nya akan dimulai satu minggu lagi.”

 

Seusai kegiatan ekstrakurikuler, semua siswa yang mengikuti ekstra band pulang, kecuali Zoey, Rey, Marvel, Freya, dan Devan.

 

Kami berlima saling berpandangan. Ruangan band yang tadi ramai kini terasa lebih hening, hanya terdengar suara kipas angin yang berputar pelan.

 

“Berarti… kita latihan mulai sekarang?” tanya Marvel sambil menyenderkan gitar listriknya ke dinding.

 

Mr. Gilang mengangguk. “Mulai hari ini. Waktu kita cuma satu minggu, jadi harus serius.”

 

Zoey tersenyum tipis, tapi aku bisa melihat ada sedikit rasa tegang di matanya. Freya membuka keyboard dan mulai menekan beberapa nada, memastikan suaranya masih selaras.

 

Aku duduk di depan drum set. Tanganku menggenggam stik drum dengan sedikit gemetar. Ini bukan cuma latihan biasa—ini penampilan pertamaku bersama Band Deralta High School.

 

“Tenang, Van,” bisik Rey. “Kita satu tim.”

 

Aku mengangguk pelan. Saat hitungan dimulai, suara musik pertama kali memenuhi ruangan itu. Dan entah kenapa, di detik itu juga, aku merasa… ini adalah awal dari sesuatu yang besar.

Hari sudah tampak gelap , aku berjalan menuju parkiran sekolah untuk mengambil motorku. 

 

"Devan mama titip roti di supermarket ya." Notifikasi dari mamaku. 

 

"Iya ma." Balasku.

 

Kutaruh handphone ku disaku celanaku. Aku melanjutkan perjalananku. Selesai membeli roti aku pun bergegas untuk segera pulang. 

 

"Asalamualaikum , Devan pulang."

 

"Eh mas Devan udah pulang, Mas di tunggu nyonya di dapur," ucap Bi Rani (ART di rumah kami).

 

"Siap Bi, duluan ya Bi."

 

"Iya Mas Devan."

 

Aku berjalan gontai menuju ke dapur. Terlihat seorang perempuan berambut panjang tengah mengaduk sesuatu di dalam panci. 

 

"Devan udah pulang? gimana hari ini?"

 

"Hari ini biasa aja sih mah."

 

"Cepet mandi sana , mana rotinya?"

 

"Ini mah , aku ke atas dulu ya mah."

 

"Iya , cepet ganti habis itu turun buat makan malam."

 

"Iya..."

 

Aku menaiki tangga dan berjalan menuju ke kamar. Aku membuka knock pintu kamar dan membaringkan tubuhku sebentar. Lima belas menit kemudian aku berjalan menuju ke kamar mandi. Seusai mandi aku keluar kamar dan menuruni tangga untuk makan malam.