Penulis: Arya Nur Prastyo 01

BAB 2 — Bersama Selamanya


Angin malam mulai bertiup lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan kesegaran pepohonan dari lembah di bawah mereka. Di atas bukit yang jauh dari hiruk-pikuk kota, waktu seolah berhenti berputar. Leo dan Jessica masih duduk di sana, di atas kap mobil yang mendingin, terbungkus dalam keheningan yang nyaman—jenis keheningan yang hanya bisa dimiliki oleh dua orang yang sudah saling memahami tanpa perlu sepatah kata pun.

Leo menggenggam tangan Jessica, merasakan tekstur kulit yang sudah sangat ia kenali. Ia tidak menatap pemandangan lampu kota yang berkelip di depan mereka, melainkan menatap profil wajah Jessica yang diterpa cahaya temaram dari lampu dasbor mobil. Garis-garis halus di sudut mata Jessica saat ia tersenyum adalah peta perjalanan yang telah mereka tempuh bersama.

"Jes," suara Leo rendah, hampir berbisik namun penuh penekanan. "Ingat tidak waktu kita pertama kali memulai semuanya? Kita tidak punya apa-apa selain keyakinan kalau kita bisa melewatinya."

Jessica menoleh, senyum tipis menghiasi bibirnya. Kenangan masa lalu melintas seperti rol film tua di kepalanya. "Aku ingat. Dulu kita hanya punya satu motor tua yang sering mogok di tengah hujan, dan mimpi-mimpi yang rasanya terlalu besar untuk saku kita yang kosong. Aku sering takut kalau 'selamanya' itu terlalu lama untuk orang seperti kita yang punya banyak kekurangan."

Leo menggeleng pelan, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Jessica. "Justru karena kekurangan itu kita jadi nyata, Jes. Aku tidak butuh seseorang yang sempurna untuk bersamaku selamanya. Kesempurnaan itu membosankan dan semu. Aku cuma butuh kamu—kamu yang mau marah saat aku ceroboh, kamu yang menangis saat kita gagal, tapi kamu yang tetap mau terus berusaha bersamaku."

Jessica menggenggam balik tangan Leo, lebih erat, seolah takut pria itu akan menguap bersama kabut malam. "Ternyata benar ya, cinta itu bukan tentang menemukan seseorang yang bisa membuat kita bahagia, tapi tentang menciptakan kebahagiaan itu sendiri, bahkan saat keadaan sedang sulit. Seperti saat kita harus berbagi satu porsi mie instan karena uang kita habis di akhir bulan, tapi kita tertawa sampai tersedak."

"Dan aku akan tetap memilihmu, ribuan kali lagi, di setiap babak kehidupan kita nanti," lanjut Leo sambil mengecup punggung tangan Jessica dengan khidmat.

Cinta mereka tidak tumbuh di laboratorium yang steril. Ia tumbuh di medan perang kehidupan. Mereka pernah melewati masa di mana komunikasi terasa hambar, di mana kelelahan bekerja membuat mereka lupa cara bertanya "bagaimana harimu?". Ada tahun di mana mereka hampir menyerah karena perbedaan visi yang tajam.

Namun, yang membuat mereka "nyata" adalah keputusan untuk tidak melepaskan. Saat orang lain memilih mencari yang baru ketika ada masalah, Leo dan Jessica memilih untuk memperbaiki yang rusak. Mereka belajar bahwa mencintai adalah sebuah pekerjaan harian.

"Kau tahu apa yang paling aku syukuri?" tanya Jessica tiba-tiba, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Leo.

"Apa?" 

"Bahwa kita tidak pernah berpura-pura. Di depanmu, aku bisa menjadi versi diriku yang paling berantakan, tanpa takut kau akan berpaling. Kau melihatku di titik terendahku, saat aku kehilangan arah, dan kau tidak memberi ceramah. Kau hanya duduk di sampingku dan memegang tanganku sampai aku siap untuk berdiri lagi."

Leo tertegun. Ia teringat masa-masa sulit saat Jessica kehilangan pekerjaannya, atau saat ia sendiri kehilangan ayahnya. Mereka tidak saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi dengan kehadiran.

Malam semakin larut. Lampu-lampu di lembah mulai padam satu per satu, menyisakan kegelapan yang tenang. Leo menarik sebuah selimut tebal dari dalam mobil dan membungkus bahu mereka berdua.

"Kita tidak tahu apa yang ada di depan sana, Jes," ujar Leo menatap langit yang kini penuh bintang. "Mungkin akan ada sakit penyakit, mungkin akan ada masalah finansial lagi, atau mungkin usia akan mencuri ingatan kita."

Jessica menatap Leo dengan mata yang berkaca-kaca, namun penuh ketegaran. "Jika nanti kau lupa siapa aku, aku akan menceritakan kembali kisah kita setiap pagi. Dan jika aku yang lupa, aku harap perasaan hangat di tanganku saat kau menggenggamnya akan mengingatkanku bahwa aku sedang berada di rumah."

Leo tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan janji yang tak terucapkan. Ia tahu, "bersama selamanya" bukanlah sebuah akhir bahagia seperti di dongeng, melainkan sebuah komitmen untuk terus berjalan di jalan yang sama, tidak peduli seberapa terjal jalannya.

"Mari kita pulang," ajak Leo lembut.

"Kita sudah di rumah, Leo," jawab Jessica sambil mengeratkan pelukannya pada lengan pria itu. "Di mana pun kamu ada, di situlah rumahku."

Mereka pun turun dari kap mobil, masuk ke dalam kendaraan yang telah menemani perjalanan mereka, dan perlahan menghilang ditelan kegelapan malam, menuju hari esok yang akan mereka hadapi sekali lagi bersama-sama.

 

Indahnya Kebersamaan 

~~~~~~~~~~~~~~~

Di bawah langit biru kita bersua,

Hati terbuka jiwa pun menyatu rasa,

Mengukir kisah sepanjang masa,

Dalam teduhnya langkah bersama.

 

Bukan harta ukuran bahagia,

Bukan pangkat yang jadi segala,

Namun tulusnya tangan menyapa,

Melenyapkan perbedaan di antara kita.

 

Senyum berkembang tawa menyala,

Suka dan duka kita terima,

Yang berat dipikul bersama,

Yang ringan dijinjing penuh asa.

 

Sendiri terasa hampa semata,

Bersama tumbuh semangat yang nyata,

Saling menjaga saling setia,

Indahlah dunia karena kita.

 

Laksana bunga aneka rupa,

Dirangkai menjadi mahkota perkasa,

Berbeda warna namun satu irama,

Itulah kekuatan saudara sebangsa.

 

Mari genggam janji setia,

Peluk persaudaraan sepenuh jiwa,

Dalam kebersamaan terpancar cahaya,

Damai dan bahagia untuk kita semua.

 

            Thank You