Di sebuah kota kecil yang dikelilingi perbukitan, hidup seorang pemahat kayu berbakat bernama Leo. Jemarinya yang kasar selalu sibuk bergulat dengan kayu jati, sementara Jessica duduk di sudut bengkel, membacakan buku atau sekadar memperhatikan kekasihnya bekerja. Bagi mereka, suara pahat yang beradu dengan kayu adalah musik paling merdu.
"Satu goresan salah, maka polanya akan berubah selamanya, Jess," ujar Leo sambil meniup serpihan kayu di atas meja.
Jessica tersenyum, menyisipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Tapi kau selalu tahu cara memperbaikinya, Leo. Itulah kenapa aku percaya padamu."
Ketenangan itu terusik ketika surat sita dari perusahaan properti tiba di meja mereka. Tanah tempat bengkel itu berdiri akan diratakan. Di saat yang sama, kondisi kesehatan ayah Jessica menurun drastis, menciptakan lubang besar dalam tabungan mereka yang tak seberapa.
Suatu malam, di bawah temaram lampu bengkel, Leo tertunduk lesu. "Jess, aku merasa gagal. Pengusaha itu... dia bisa memberimu segalanya. Dia bisa menyembuhkan ayahmu tanpa perlu berpikir dua kali. Sementara aku? Aku bahkan tidak tahu di mana kita akan tinggal bulan depan."
Jessica berjalan mendekat, memeluk bahu Leo dari belakang. "Kau pikir aku ini barang yang bisa ditukar dengan kuitansi rumah sakit? Aku memilihmu bukan karena apa yang kau punya, tapi karena siapa dirimu saat memegang pahat itu."
"Tapi ini nyata, Jess. Kita bisa kehilangan segalanya," bisik Leo getir.
Jessica memutar kursi Leo agar mereka berhadapan. "Maka kita akan memahat takdir yang baru. Jangan minta aku pergi hanya karena kau takut melihatku menderita. Aku lebih takut hidup mewah tanpa melihat senyummu setiap pagi."
Mendengar itu, Leo seolah mendapat kekuatan baru. Ia tidak lagi memahat dengan ragu. Ia mengambil potongan kayu terbaiknya dan mulai mengerjakan "Ukiran Cinta" sebuah panel besar yang menggambarkan dua akar pohon yang saling melilit di bawah tanah, tak terlihat namun tak tergoyahkan.
Setiap hari, Jessica membawa foto-foto hasil karya Leo ke kota, menawarkan kerja keras mereka ke berbagai galeri. Ia mengabaikan tawaran bantuan yang datang dengan syarat ia harus meninggalkan Leo.
"Maaf," ucap Jessica tegas kepada pengusaha yang mencoba mendekatinya. "Cintaku tidak sedang dijual untuk melunasi hutang. Kami akan membayarnya dengan cara kami sendiri."
Kegigihan itu membuahkan hasil. Sebuah galeri besar tertarik dengan tema kesetiaan dalam karya Leo. Pameran tunggal kecil-kecilan diadakan, dan "Ukiran Cinta" menjadi pusat perhatian. Seorang kurator menyebutnya sebagai "jiwa yang terperangkap dalam kayu".
Hasil penjualan karya itu melampaui ekspektasi mereka. Biaya pengobatan ayah Jessica terlunasi, dan lahan bengkel mereka berhasil ditebus.
Bertahun-tahun kemudian, di teras rumah kayu mereka yang asri, Leo sedang mengajar putra kecil mereka mengukir. Jessica datang membawa dua cangkir teh hangat.
"Lihat, Jess," kata Leo sambil menunjuk ke arah ukiran lama yang masih mereka simpan di ruang tamu. "Kayu itu punya serat yang kasar, tapi justru itu yang membuatnya cantik setelah diampelas."
Jessica menyandarkan kepalanya di bahu Leo. "Sama seperti kita. Masalah kemarin hanyalah cara semesta mengampelas ego kita, agar kita bisa bersinar seperti sekarang."
Mereka tetap bersama, saling menggenggam, membuktikan bahwa cinta yang diukir dengan kesetiaan tidak akan pernah lapuk oleh waktu.
Kesetiaan Abadi
~~~~~~~~~~~
Dalam setiap langkah, hadirmu selalu terasa,
Kesetiaanmu abadi, tidak akan pernah sirna.
Kamu adalah matahari yang menyinari harimau,
Kamu adalah rembulan yang menenangkan hati.
Bersama kita jalani samudra kehidupan,
Menghadapi badai dengan senyuman.
Karena cinta kita adalah perisai,
Kesetiaan yang abadi tidak akan terurai.
Meski dunia kadang terasa begitu bising,
Genggaman tanganmu membuat segalanya hening.
Kita tidak perlu janji yang terlalu tinggi,
Cukup saling menjaga dan tetap ada di sini.
Hingga nanti waktu mulai memakan usia,
Biarlah cerita kita tetap menjadi yang paling berharga.
Karena bersamamu, setiap detik punya arti,
Menjadi rumah tempatku selalu ingin kembali. 🥰
Thank You